Al Hasan dan Al Husein, putera Sayidina Ali Bin Abi Thalib r.a, pergi ke masjid dan menjumpai seorang lelaki tua yang sedang berwudu lalu salat. Ternyata, wudu dan salat orang tua itu kurang sempurna. Hasan dan Husein ingin menasihati dan membetulkannya, tetapi khawatir menyinggung perasaannya. Akhirnya mereka sepakat untuk menegurnya dengan cara hikmah dan bijaksana.
Di hadapan orang tua tersebut mereka pura-pura berdebat, masing-masing berkata bahwa dialah yang lebih benar wudu dan salatnya. Mereka lalu meminta orang tua itu menilainya. Lalu mereka masing-masing melakukan wudu dan salat. Setelah orang tua itu melihat cara berwudu dan salat mereka, akhirnya lelaki tua itu menyadari bahwa wudu dan salatnya ternyata cacat serta tidak sempurna sebagai- mana wudu kedua pemuda itu.
Lelaki itu berkata kepada Hasan dan Husein, “Alangkah baiknya bimbingan dan nasihat kamu kepadaku. Semoga Allah merahmatimu”.
subhanallah….memang akhlak para sahabat sungguh sempurna. Betapa mulia jika kita bisa mengingatkan tanpa menyinggung perasaan orang lain. kebanyakan dari kita memang telah berkomitmen untuk mencapai amar ma’ruf nahi munkar,namun yg terjadi sebaliknya,kita malah terjebak dalam klise keterbatasan humanis.
lihatlah betapa para sahabat dengan arif serta adil dapat memberi tarbiyah tanpa keterpaksaan.