ANAK MALAS MERAPIHKAN MAINANNYA

20 08 2008

Usai menggambar, Vito (2;8) membiarkan saja mainan mobil-mobilannya berserakan di lantai. Sang ibu yang melihatnya, lantas menegur, “Vito, kok mainanmu tidak dirapikan lagi? Ayo, simpan lagi di tempatnya.” Tetapi apa jawab si mungil Vito? “Aku capek, Ma,” seraya beranjak pergi.

Mungkin Anda pun pernah mengalaminya. Si batita menolak dengan alasan “capek”, biasanya ketika disuruh merapikan mainannya kembali. Bahkan ada lo, orang tua yang sampai khawatir, jangan-jangan anaknya memang sedang tidak sehat.

USIA MEMBANGKANG

Sebetulnya, apakah Vito benar-benar capek? Jawabannya, belum tentu. Begitu pula anak Anda yang mungkin sering mengemukakan alasan capek saat diminta membereskan mainannya. Mengapa? Karena di usia 1-3 tahun, anak tengah memiliki kecenderungan membangkang atau negativisme.

Negativisme, kata Dona Eka Putri, Psi., sebenarnya mulai ditunjukkan sejak anak belum bisa berkomunikasi dengan baik. Pernah kan, melihat anak batita yang menutup mulutnya rapat-rapat saat disuapi makan? “Nah, pada saat itu anak sudah mengungkapkan, orang lain maunya ini, saya maunya itu. Alhasil, ketika diminta melakukan sesuatu, dia bilang tidak atau malah melakukan hal lain yang justru bertentangan dengan yang kita mau,” papar staf Laboratorium Menengah sekaligus dosen di Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma, Depok ini.

Setelah kemampuan verbalnya semakin bagus, penolakan-penolakan atau negativisme seperti “capek ah”, “malas ah”, “nanti aja” mulai bermunculan untuk mengganti atau menemani negativisme yang sudah ada. Akan tetapi, negativisme ini tidak murni pertanda karakter anak, melainkan lebih dikarenakan dorongan eksplorasi yang juga tengah berkembang pesat di usia ini. “Si batita ingin melihat sekaligus ingin lebih tahu bagaimana reaksi dari lingkungannya kala dia melakukan hal tersebut.”

Jika anak melihat bahwa usaha atau “penelitiannya” itu berhasil, semisal si ibu mengatakan, “Ya, sudah. Besok harus dibereskan, ya,” maka hal itu pertanda besok-besok dia akan mengulanginya kembali. Mengapa? Karena keputusan si ibu yang seperti itu merupakan penguat bagi anak untuk melakukan negativisme lagi.

ADA APA DI BALIK “CAPEK”?

Intinya, kata “capek” yang diucapkan si batita tidak berarti yang sebenarnya. “Itu hanya sebuah penolakan semata,” ujar Dona. Sedangkan kata “capek” itu sendiri didapatkan si batita, kemungkinan besar dari hasil peniruan. “Eh, dengan hanya menyebutkan capek, ternyata bisa terhindar dari apa yang tidak kita inginkan. Asyik juga nih, coba juga ah,” misalnya.

Jadi, maksud capek si batita jauh berbeda dari capeknya orang dewasa. “Pada orang dewasa, kata ‘capek’ bisa mewakili kondisi diri yang letih, tidak kuasa lagi untuk melakukan sesuatu, tidak punya tenaga, atau malas melakukan hal tersebut karena sesuatu hal.”

Si kecil mengatakan capek karena pada saat itu dia ingin segera melakukan hal lain yang disukainya atau yang lebih seru baginya ketimbang membereskan mainan-mainannya. Bisa juga kata capek diutarakan karena ia memang tengah asyik melakukan sesuatu dan tidak mau diganggu. “Bunda ada-ada aja deh, enggak bisa lihat orang senang,” begitu katanya dalam hati.

Atau, ucapan capeknya itu justru dikarenakan ia belum bisa melakukan penolakan dengan cara yang lebih baik, seperti, “Aku tidak bisa membereskannya, Bun,”; “Iya, sebentar lagi, setelah selesai yang satu ini,” atau, “Oke, tapi bantuin, ya. Aku kerepotan nih.”

Malah bukan tak mungkin, si anak berkata capek hanya karena ingin lebih diperhatikan orang tuanya. Coba deh perhatikan, saat anak berkata capek, biasanya orang tua akan lebih mendekatkan diri ke anak karena mereka tidak ingin anaknya melakukan penolakan. Nah, kalau begini, keinginan anak jadi tercapai, bukan?

AKAL-AKALAN SI PINTAR

Dona menyimpulkan, pada dasarnya anak batita yang mengatakan capek bukanlah anak yang pemalas ataupun memang sedang capek dalam arti yang sebenarnya. Karena bila situasi dan kondisinya bisa dibuat menarik bagi anak, “Sepertinya kata capek tidak akan diucapkan oleh anak.”

Malah, menurut Dona, kata capek yang dilontarkan si batita bisa juga disebut sebagai aksi manipulatif. Ini berarti, si batita sedikit lebih pintar dan maju perkembangannya daripada anak lain yang seusia. “Dia cepat menangkap reaksi lingkungan dan mampu melakukan pengamatan yang standarnya baru bisa dilakukan anak usia 4-5 tahun ke atas.” Bukankah umumnya penolakan anak usia batita masih dalam bentuk tantrum, menangis, atau mogok?

Jadi, anak batita dalam kelompok ini sudah memiliki kemampuan verbal satu langkah lebih maju daripada batita lainnya, dan satu langkah lebih maju dalam cara mengungkapkan ekspresi. “Dapat dikatakan, anak ini proses belajarnya baik. Setiap pengalaman atau pengamatan yang dia lakukan sehari-hari selalu dijadikan pelajaran dan mampu diserapnya dengan baik.” Misalnya, “Oh, kalau aku menolak dengan guling-guling atau marah dan keinginanku enggak terkabul. Kalau begitu aku ngikutin Ayah aja deh bilang capek. Buktinya Bunda tidak marah dan keinginanku terkabul.”

Walau begitu, kita tak boleh pukul rata mengartikannya sebagai aksi manipulatif. Karena pada kasus tertentu, bisa saja kata capek tersebut merupakan sebuah deskripsi anak tentang kondisinya yang memang sedang capek.

MENGUBAH “CAPEK” MENJADI “OKE, BU!”

Lantas, apa yang sebaiknya kita lakukan menghadapi penolakan manipulatif ini? Menurut Dona, orang tua tetap harus menggali mengapa anak menolak. Walau bagaimanapun pintarnya, si batita harus tetap diarahkan supaya tidak melenceng ke arah yang negatif.

Jadi, ketika si batita mengatakan capek, tanyakan alasannya, “Lo, kok capek, kenapa?” Namun jangan marah bila jawabannya adalah, “Ya, capek aja” atau “Pokoknya capek.” Memarahinya cuma akan menambah masalah baru. “Anak jadi tak percaya pada orang tua, hingga yang paling ekstrem, anak akan mengalami kemunduran perkembangan dalam artian jadi penakut, tidak kritis, tidak peka lingkungan, atau tidak lagi mau mencari ide baru,” papar Dona.

Daripada marah, lebih baik kita katakan saja, “Kalau begitu, besok mainnya tidak lama-lama, ya supaya tidak capek.” Nah, besoknya, kita harus konsisten, saat si kecil main, ingatkan, “Oke, cukup mainnya, nanti capek. Sekarang bereskan mainannya.”

Kalau saat itu anak mau membereskan mainannya, kemungkinan alasan capek tempo hari memang betul adanya. Tetapi bila kali ini pun anak tetap mengeluh capek, kita bisa katakan, “Masih capek? Sekarang minum dan duduk sebentar.” Jika masih juga mengeluh capek, ajak anak berkomunikasi dengan baik untuk menggali alasannya kenapa selalu mengeluh capek saat harus membereskan mainan. “Kondisi atau cara seperti ini berlaku juga pada keluhan capek atau penolakan melakukan hal lainnya.”

Tak hanya sampai di situ, orang tua harus juga memberikan pengertian supaya anak tetap mau menjalankan tanggung jawabnya, tidak menjadi anak yang malas atau mau enaknya saja. Caranya? Lagi-lagi harus dengan komunikasi dari hati ke hati.

Anak batita yang pintar, ungkap Dona, akan jauh lebih cepat menerima masukan dan nilai positif dari orang lain, terlebih orang tuanya. Asalkan caranya tepat, yaitu tidak memaksa, tidak mengintimidasi, tidak mendoktrin, dan lainnya sejenis itu. Disamping tentunya orang tua juga harus konsisten menerapkan aturannya.
MEMBUKTIKAN ANAK TAK CAPEK

Caranya, lakukan observasi kecil. Setelah anak mengatakan capek pada kondisi tertentu, ajak dia melakukan sesuatu yang disukainya, semisal main sepeda roda tiga. “Nah, di situ kita bisa melihat. Bila si kecil menyambutnya dengan ‘semangat 45′, berarti capeknya hanya akal-akalan saja untuk menghindari kondisi yang tidak dia inginkan,” saran Dona.
CAPEK MUNGKIN TANDA TAK SEHAT

Bila anak kita termasuk lemah kondisi fisiknya, mudah sakit, mudah lelah, atau punya riwayat kesehatan khusus maka, “Keluhan capeknya harus menjadi warning bagi orang tua,” ujar Dona mengingatkan.

Gazali Solahuddin. Foto: Iman/NAKITA

Sumber : http://www.tabloid-nakita.com

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: