Membuka Pintu buat Orang Miskin

27 05 2008

Pesta perpisahan sekolah siang itu merupakan saat yang sangat membahagiakan bagi Suryadarma (18 tahun), siswa kelas tiga SMA Sultan Iskandar Muda Medan.

Tiga tahun lalu ia nyaris putus sekolah karena tidak ada biaya. Hampir-hampir ia putus asa. Berkat informasi dari seorang tetangganya, anak ketiga dari lima bersaudara ini mendaftarkan diri ke SMA Sultan Iskandar Muda dan meminta diikutsertakan dalam program orangtua asuh.

Tiga tahun pendidikan SMA- nya dilewati dengan gemilang. Bahkan menjelang pesta perpisahan sekolah, ia memperoleh kabar diterima masuk tanpa tes di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Soal biaya ia tidak perlu risau karena Perguruan Sultan Iskandar Muda otomatis akan menyokongnya.

”Setiap anak asuh yang jebol masuk perguruan tinggi negeri, semua biaya akan ditanggung sekolah,” kata Suryadarma.

Pintu masa depan bagi Suryadarma telah terbuka lebar meski keprihatinan masih membayang di wajahnya. Ibunya yang berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya kini tidak bekerja dan sakit-sakitan. Dua adik Surya putus sekolah di SMP.

”Suatu saat nanti, ketika saya berhasil, saya akan berusaha membantu adik-adik saya. Saya akan membiayai kursus mereka atau membantu modal usaha. Yang penting mereka bisa bekerja, tidak menjadi peminta- minta atau menjadi buruh kasar,” kata Suryadarma.

Sekolah pembauran Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda merupakan sebuah pengecualian dalam pengelolaan sekolah swasta di Indonesia. Di tengah gelombang komersialisasi pendidikan, sekolah-sekolah di lingkungan Perguruan Sultan Iskandar Muda tetap membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat miskin. Bahkan mereka menjemput bola, membagikan selebaran, memasang spanduk, dan mendatangi kampung-kampung miskin untuk menawarkan beasiswa.

Sekolah yang tidak dikelola dengan pendekatan dagang itu ternyata bisa menjaga kelangsungan hidupnya. Bahkan sekolah yang memberikan tempat bagi kelompok masyarakat miskin ini bisa menjaga kualitas pendidikan yang ditawarkannya. Bila ukuran ujian nasional yang dipakai, 100 persen peserta dari SMA dan SMK Sultan Iskandar Muda lulus dengan kualifikasi A karena rata-rata nilai kelulusan mereka di atas tujuh.

Nova Sofiani (11) dan adiknya, Lenny Sofiani (9), tidak mungkin melanjutkan sekolah tanpa memperoleh beasiswa dari orangtua asuhnya. Ibunya, Tan Guek Hong alias Suharni (31), harus membesarkan tiga anaknya sendirian setelah ditinggal suaminya. Ia menumpang di rumah kakaknya. Ia tidur satu kamar berlima, bersama tiga anaknya dan ibunya. Untuk menghidupi tiga anaknya ia pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan pramuniaga. Meski jauh dari mencukupi, ia kini mencoba berjualan mi ayam. Namun keberuntungan belum berpihak pada dirinya.

”Saya berjualan di dekat sekolah, gagal. Di pasar Sunggal, gagal. Sekarang saya mencoba di sini. Tapi hari ini saya baru dapat menjual enam mangkok,” tutur Suharni sambil menyeka air matanya.

Melalui pihak sekolah, Guruh Soekarnoputra bersedia menjadi orangtua asuh bagi kedua anaknya. ”Bila tidak mendapatkan orangtua asuh, tidak tahulah saya bagaimana anak saya bisa bersekolah,” kata Suharni yang ditemui di warung mi ayamnya di Sukarame, Medan.

Sejak berdiri, Perguruan Sultan Iskandar Muda tidak dikelola secara komersial. Karena itulah, Sofyan Tan—warga keturunan Tionghoa yang dikenal sebagai tokoh pembauran di Medan—memilih mendirikan sekolahnya di Desa Sunggal, delapan kilometer dari pusat Kota Medan. Ketika gedung sekolah dibangun pada tahun 1988, Sunggal merupakan wilayah permukiman miskin.

”Tak boleh ada anak dari keluarga miskin yang ditolak masuk sekolah ini. Umumnya anak-anak di sini berasal dari golongan ekonomi pas-pasan. Malah banyak yang sama sekali tak mampu bayar,” katanya.

Beasiswa untuk pembauran

Untuk menopang supaya sekolah dapat terus berjalan, sejak 1990 Sofyan membuat program anak asuh berantai lintas etnis. Prinsipnya, anak-anak dari golongan tidak mampu—dengan syarat memiliki motivasi belajar kuat—diterima terlebih dahulu dan disokong dengan beasiswa sekolah. Sembari berjalan, sekolah mencarikan beasiswa dari orangtua asuh secara silang: warga keturunan Tionghoa menjadi anak asuh warga pribumi, sebaliknya warga pribumi dicarikan orangtua asuh warga keturunan. Dengan metode ini, pembauran secara alami terjadi.

Pada awalnya, menurut Sofyan, sekolah harus pontang- panting mencarikan orangtua asuh. Sekarang justru sebaliknya. Paling banter sekolah menelepon meminta kesediaan seseorang untuk menjadi orangtua asuh. Kadang-kadang justru peminat untuk menjadi orangtua asuh melebihi jumlah anak yang membutuhkan bantuan. Tak jarang sekolah justru kehabisan stok anak asuh.

”Sebenarnya banyak orang kaya yang ingin membantu orang lain. Masalahnya banyak yang tidak tahu caranya atau tidak percaya pada yang mengelola,” kata Sofyan.

Untuk mengelola program orangtua asuh ini, yayasan mempekerjakan dua karyawan yang khusus menangani kegiatan ini. Mereka tak cuma menunggu, tetapi secara proaktif mencari anak dari keluarga kurang mampu untuk mendaftar ke sekolah itu dengan memperoleh beasiswa orangtua asuh.

Menjelang tahun ajaran baru, Rini Asfia Tanjung (30)—koordinator program orangtua asuh di Perguruan Sultan Iskandar Muda—sibuk mendatangi komunitas-komunitas masyarakat miskin untuk mencari anak yang tidak bisa bersekolah. Ia juga mendatangi keluarga anak-anak yang mendaftar untuk mengikuti program beasiswa orangtua asuh. Ia mengecek dan mewawancarai langsung keluarga anak tersebut untuk menentukan layak-tidaknya anak dari keluarga tersebut memperoleh beasiswa.

”Kriteria utama bukan anak yang pintar tetapi anak-anak dari keluarga kurang mampu, kemauan bersekolahnya tinggi, dan mau berprestasi,” kata Rini.

Rini dan seorang kawannya memasukkan data calon anak asuh dalam komputer, membuat lembaran biodata untuk tiap anak asuh, dan mencarikan orangtua atau lembaga yang bersedia menjadi orangtua asuh. Tiap tahun sekolah memberikan laporan perkembangan anak kepada orangtua asuh masing-masing. Pada saat yang sama anak menulis surat kepada orangtua asuhnya.

Dari sekitar 1.500 murid dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, dan SMK Sultan Iskandar Muda yang ada saat ini, sekitar 100 orang memperoleh beasiswa dari orangtua asuh dan 400 anak lainnya memperoleh potongan uang sekolah. Uang sekolah normal di Perguruan Sultan Iskandar Muda rata-rata Rp 75.000 per bulan untuk tingkat SD, Rp 95.000 per bulan untuk SMP, dan Rp 110.000 per bulan untuk SMA/SMK.

Sejak dirintis sampai sekarang, total jumlah anak asuh di sekolah itu mencapai 1.247 anak. Sebagian eks anak asuh itu kini telah menjadi ”orang”, sebagian kembali ke sekolah sebagai guru atau karyawan, bahkan beberapa di antaranya bisa menyelesaikan studinya sampai tingkat master.

Salah satu peserta program anak asuh itu adalah Nurdianawati (30) yang sekarang menjadi guru kelas satu SD Sultan Iskandar Muda. Tamat SMP ia tidak bisa melanjutkan sekolah dan bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Anak nomor empat dari sembilan bersaudara ini menjadi anak asuh pertama Sofyan Tan. Pada tahun 1993 ia lulus SMA dan diterima tanpa tes di Program Studi Bahasa Indonesia di Universitas Sumatera Utara. Sejak semester tiga, sembari kuliah ia membantu mengajar di SD Sultan Iskandar Muda. ”Saya bersekolah di sini ketika gedung sekolah masih sederhana sekali. Saya kerasan bekerja di sini. Sekolah ini seperti rumah saya sendiri,” ujar Nurdianawati.

( Sumber : Kompas Rabu, 06 Juli 2005 )


Aksi

Information

One response

16 06 2008
Darwin_ortiz

Maju terus yayasan perguruan sultan iskandar muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: