IMAM AL GHAZALI

17 06 2008

IMAM AL-GHAZALI DAN FIQH PRIORITAS

DI ANTARA ulama yang memberikan perhatian besar kepada fiqh
prioritas dan mengkritik cara hidup masyarakat Muslim yang
berlebih-lebihan ialah Imam al-Ghazali. Hal ini tampak dengan
jelas dalam ensiklopedianya, al-Ihya’ ‘Ulum al-Din. Pembaca
buku ini akan menemukan pembahasan tersebut pada seperempat
buku, dan juga buku al-Arba’in-nya. Lebih jelas lagi dalam
bukunya, Dzamm al-Ghurur, yang merupakan bagian kesepuluh dari
al Muhlikat.

Di dalam kajian itu disebutkan berbagai kelompok manusia yang
tertipu tetapi mereka tidak menyadarinya.

Al-Ghazali menyebut orang-orang yang memiliki ilmu
pengetahuan, ahli ibadah dan amalan, orang-orang sufi,
orang-orang kaya dan, juga orang-orang awam. Dia menyebutkan
ketertipuan orang-orang dari masing-masing kelompok, dan
bagaimana mereka tertipu oleh hawa nafsu mereka, atau
bagaimana setan-setan mereka memperindah perbuatan buruk
mereka, sehingga mereka melihatnya sebagai perbuatan yang
baik. Setan telah memberikan sifat dan gambaran yang baru,
yang harus mereka ikuti.

Saya menganggap cukup untuk menyebutkan dua contoh kritikannya
yang mendalam dan arif, untuk melihat sejauh mana pemahamannya
terhadap agama Allah, dan pemahamannya terhadap dunia manusia,
serta kemauan kerasnya untuk memperbaiki keadaan manusia dari
segi lahiriah dan batiniah mereka, di samping perhatiannya
pada fiqh prioritas.

CONTOH KETIMPANGAN DALAM MEMBUAT PERINGKAT AMALAN SYARI’AH

Contoh pertama ialah kelompok orang-orang beragama yang
tertipu, di antara para ahli ibadah dan amal perbuatan.
Al-Ghazali berkata,

“Di antara mereka adalah kelompok orang-orang yang
meremehkan perkara-perkara fardhu dan menyibukkan diri
dengan masalah fadhail dan nawafil. Bahkan mungkin
sekali mereka memperdalam perkara-perkara fadhail
sehingga mereka berani melakukan permusuhan dan
tindakan yang melampaui batas. Seperti orang yang
dikalahkan oleh keraguan dalam berwudhu sehingga dia
sangat berlebihan dalam melakukannya, dan tidak puas
dengan air yang dianggap suci menurut fatwa syari’ah.
Dia menilai hal-hal yang jauh dari najis menjadi dekat.
Tetapi apabila dia memakan makanan yang halal dia
menilai hal-hal yang dekat kepada haram menjadi jauh.
Dan bahkan dia memakan makanan yang betul-betul
haram.22

Ada lagi kelompok yang sangat tamak untuk melaksanakan
perkara-perkara yang hukumnya sunnah, tetapi tidak
menghiraukan kepada perkara-perkara yang hukumnya fardhu. Anda
dapat melihat orang yang termasuk di dalam kelompok ini begitu
gembira bila dapat melaksanakan shalat Dhuha, shalat malam,
dan perkara-perkara sunnah lainnya, tetapi dia tidak pernah
merasakan nikmatnya perkara fardhu, serta tidak bersemangat
untuk segera melaksanakan perkara ini di awal waktunya. Dia
lupa terhadap sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan dari
Tuhannya,

“Tidak ada sesuatu yang dapat dipergunakan oleh
seseorang mendekatkan diri kepada-Ku seperti apa yang
Saya fardhukan kepada mereka.”23

Mengabaikan urutan prioritas pada perkara-perkara yang baik
adalah termasuk keburukan.

Bahkan, telah ditetapkan adanya dua macam fardhu dalam
kehidupan manusia. Pertama, yang terluput, dan kedua tidak
terluput. Atau adanya dua keutamaan. Pertama, ialah kategori
fardhu yang sempit waktunya, dan kedua ialah kategori fardhu
yang luas waktunya. Apabila dia tidak menjaga urutan prioritas
tersebut, maka dia akan tertipu dan sia-sia.

Contoh-contoh yang lainnya sangat banyak dan tidak terhitung
jumlahnya; karena sesungguhnya kemaksiatan dan ketaatan
merupakan dua hal yang sangat jelas. Hanya saja masalah yang
cukup rumit ialah mendahulukan sebagian ketaatan atas sebagian
yang lain. Seperti mendahulukan hal-hal yang fardhu atas
hal-hal yang sunnah; mendahulukan fardhu ain atas fardhu
kifayah; mendahulukan fardhu kifayah yang tidak ada orang yang
mengerjakannya atas fardhu kifayah yang sudah ada orang yang
mengerjakannya; mendahulukan fardhu ain yang paling penting
atas hal-hal yang kurang penting; dan mendahulukan urusan yang
sudah mendesak atas urusan yang masih longgar waklunya. Hal
ini adalah seperti mendahulukan kepentingan ibu atas
kepentingan ayah; karena Sesungguhnya ketika Rasulullah saw
ditanya oleh seorang sahabat, “Kepada Siapakah aku harus
berbuat baik wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Ibumu.” Orang
itu bertanya lagi, “Kemudian kepada siapa?” Rasul menjawab,
“Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian kepada siapa lagi?”
Rasul menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian kepada
siapa lagi?” Rasul menjawab, “Ayahmu.” Dia bertanya lagi,
“Kemudian kepada siapa lagi?” Rasul menjawab, “Kemudian kepada
yang lebih dekat lagi dan kepada yang lebih dekat lagi.” 24

Oleh sebab itu, kita mesti memulai menjalin tali silaturahim
dengan kerabat yang paling dekat. Dan jika ada kesamaan
kedekatan mereka, maka kepada yang lebih perlu, jika masih
sama lagi, maka kita harus memilih yang lebih bertaqwa dan
lebih wara’.

Begitu pula orang yang harta bendanya tidak cukup untuk
memberikan nafkah kepada kedua orangtua dan ibadah haji, maka
barangkali dia dapat melaksanakan ibadah haji tetapi dia
tertipu. Seharusnya dia mendahulukan hak kedua orangtuanya
daripada melakukan ibadah haji. Dan inilah yang disebut dengan
melakukan fardhu yang lebih penting atas fardhu yang lainnya.

Contoh lainnya sangat banyak, misalnya apabila seseorang
membuat janji, dan telah masuk waktu shalat Jumat, kemudian
shalat Jumatnya tertinggal, maka kesibukan untuk menepati
janji “ketika itu” dianggap sebagai kemaksiatan, walaupun ini
merupakan salah satu bentuk ketaatan dari dirinya.

Begitu pula seseorang yang pakaiannya terkena najis, kemudian
dia marah kepada kedua orangtuanya dan keluarganya karena
najis tersebut. Maka sesungguhnya najis itu perlu dihindari
dan menyakiti hati kedua orangtua juga harus dihindari.
Menghindarkan diri dari menyakiti hati orangtua adalah lebih
penting daripada menghindarkan najis seperti itu.

Contoh-contoh benturan antara larangan dan ketaatan sangat
banyak. Orang yang tidak menjaga urutan prioritas dalam semua
persoalan di atas, maka ia akan tertipu. Ketertipuan ini
merupakan masalah yang sangat pelik, karena sesungguhnya orang
yang tertipu itu berada di dalam ketaatan, hanya saja dia
kurang waspada terhadap ketaatan yang dapat menjelma menjadi
kemaksiatan, Karena ia meninggalkan ketaatan yang wajib dan
lebih penting.”25

Itulah persoalan paling penting yang disebutkan oleh
al-Ghazali, ahli fiqh itu, dan betapa perlunya para juru
da’wah kebangkitan Islam kepada fiqh dan kesadaran al-Ghazali.
Sejak munculnya isu kebangkitan Islam dan organisasi keagamaan
saya telah mempergunakan konsep itu yang saya sebut dengan
“fiqh urutan pekerjaan”, karena setiap amalan harus diberi
‘kredit’ syari’ah nya, dan ditempatkan pada “anak tangga”
perkara-perkara yang diperintahkan atau dilarang. Saya belum
pernah membaca tulisan seperti yang dibuat oleh al-Ghazali
yang demikian mendalam dan jelas. Dia mempergunakan istilah
yang sangat menonjol, yaitu “meninggalkan urutan prioritas
pada perkara-perkara yang baik dari sejumlah keburukan.” Dan
banyak lagi contoh lainnya yang dapat kita peroleh dari uraian
yang dibuatnya.

MEMBELANJAKAN HARTA PADA SESUATU YANG KURANG DIPRIORITASKAN

Contoh lainnya, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh
orang-orang kaya, dan tertipu. Orang yang tergolong dalam
kelompok ini ada bermacam-macam. Salah satunya ialah orang
yang sangat berambisi untuk membangun masjid-masjid,
sekolah-sekolah, jembatan-jembatan, yang tampak pada mata
orang banyak, kemudian mereka mengukirkan nama-nama mereka
pada batu prasasti, agar nama mereka senantiasa diingat, dan
tetap dikenang walaupun mereka telah meninggal dunia, serta
diketahui bahwa itulah hasil peninggalan mereka. Mereka
menyangka bahwa dengan melakukan perbuatan seperti itu mereka
berhak mendapatkan ampunan dari Allah SWT, namun sebenarnya
mereka tertipu dalam dua hal.

Pertama, mereka membangun proyek-proyek itu dari harta
kekayaan yang mereka peroleh melalui kezaliman, perampasan,
dan sogokan (risywah), serta dari hal-hal yang terlarang.
Dengan cara pencarian harta kekayaan seperti ini berarti
mereka telah mendapatkan satu kemurkaan dari Allah SWT, serta
kemurkaan ketika menafkahkannya. Seharusnya mereka mencegah
diri untuk tidak mencari harta kekayaan dengan cara seperti
itu. Dan apabila mereka telah melakukan kemaksiatan kepada
Allah untuk memperoleh harta kekayaan itu, maka mereka harus
bertobat dan kembali kepada Allah, mengembalikan harta
kekayaan itu kepada orang yang berhak memilikinya. Yaitu
dengan cara mengembalikan barangnya atau menggantikan nilai
barang tersebut apabila mereka tidak dapat mengembalikan
barangnya. Jikapun mereka tidak dapat mengembalikan
barang-barang itu kepada pemiliknya, maka mereka wajib
mengembalikannya kepada para ahli warisnya. Jika orang yang
dizalimi itu tidak mempunyai ahli waris, maka dia harus
menafkahkan harta itu untuk kemaslahatan yang paling penting.
Dan barangkali tindakan yang paling penting ialah mengentaskan
kemiskinan. Akan tetapi, sayang sekali mereka tidak
melakukannya, karena khawatir bahwa perbuatannya tidak banyak
diketahui oleh mata manusia. Dan oleh karena itu mereka
mendirikan bangunan, dengan tujuan memamerkan amal
perbuatannya, dan memperoleh pujian dari manusia, serta
berambisi untuk mengekalkan amal perbuatannya agar pada masa
yang sama namanya juga ikut terabadikan.

Kedua, mereka menyangka bahwa amal perbuatan itu mereka
lakukan dengan ikhlas, dan bertujuan baik karena menafkahkan
harta kekayaan untuk membangun gedung-gedung. Akan tetapi,
kalau salah seorang di antara mereka diminta sumbangan satu
dinar, dan namanya tidak diabadikan sebagai penyumbang, maka
hatinya tidak hendak memberikan sumbangan itu, padahal Allah
SWT Maha Mengetahui amal perbuatannya baik namanya ditulis
sebagai penyumbang atau tidak. Misalkan orang itu tidak
memerlukan pujian orang, tapi hanya karena Allah, maka mengapa
dia harus berlaku seperti itu.

KESIBUKAN ORANG KAYA DENGAN IBADAH FISIK

Kelompok lainnya ialah orang-orang kaya yang sibuk menumpuk
dan menyimpan harta kekayaannya tapi sangat pelit (bakhil)
untuk membelanjakan harta kekayaan tersebut. Kemudian mereka
menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah fisik yang tidak
memerlukan biaya. Seperti berpuasa pada siang hari, melakukan
shalat malam, dan mengkhatamkan al-Qur’an. Sebenarnya
orang-orang seperti ini tertipu, sebab kebakhilan yang sangat
merusak telah menguasai relung batiniah mereka. Seharusnya dia
dapat memasuki ketinggian derajat dengan menafkahkan harta
kekayaannya, tetapi dia sibuk mencari suatu kelebihan yang
sepatutnya tidak perlu dia lakukan. Perumpamaan orang seperti
ini adalah seperti orang yang pakaiannya dimasuki ular dan
hampir binasa, tetapi dia masih menyibukkan diri dengan
memasak jamu untuk menyembuhkan penyakit kuningnya. Lalu,
apakah orang yang mendekati kehancuran karena diracuni oleh
ular masih memerlukan jamu?

Oleh sebab itu, Ketika ada seseorang yang berkata kepada
Bisyr, “Sesungguhnya Fulan yang kaya itu banyak melakukan
puasa dan shalat,” Bisyr berkata kepadanya, “Kasihan, dia
meninggalkan urusannya sendiri dan memasuki urusan orang lain.
Sesungguhnya lebih baik bagi dirinya untuk memberikan makanan
kepada orang-orang yang kelaparan, dan menafkahkan hartanya
untuk orang-orang miskin daripada dia melaparkan dirinya
sendiri, dan melakukan shalat untuk kepentingan dirinya. untuk
apa dia mengumpulkan dunia dan menahan harta kekayaan itu dari
fakir miskin?”

MEMBELANJAKAN HARTA UNTUK HAJI SUNNAH

Sesuatu yang dianggap aib oleh al-Ghazali dalam perilaku
orang-orang kaya umat ini ialah bahwa sesungguhnya mereka
sangat berambisi membelanjakan uangnya untuk melakukan ibadah
haji. Sehingga mereka melakukan ibadah haji berkali-kali, dan
bahkan mereka meninggalkan tetangga-tetangganya kelaparan.

Oleh sebab itu, Ibn Mas’ud berkata, “Pada akhir zaman nanti
banyak orang yang melakukan ibadah haji tanpa sebab. Mereka
begitu mudah melakukan perjalanan ke Makkah, mempunyai rizki
yang melimpah, tetapi mereka pulang kembali ke tanah airnya
dalam keadaan miskin dan tidak punya apa-apa. Hingga ada salah
seorang di antara mereka yang untanya tersesat di tengah
padang pasir, tetapi tetangganya yang ada di sampingnya
terbelenggu dan dia tidak dapat memberikan pertolongan
kepadanya.”

Seakan-akan Ibn Mas’ud r.a. melihat kepada apa yang akan
terjadi pada zaman kita sekarang ini melalui alam gaib dan
memberikan ciri-cirinya Abu Nashr al-Tammar berkata,
“Sesungguhnya ada seorang lelaki yang datang dan ingin
mengucapkan selamat tinggal kepada Bisyr bin al-Harits sambil
berkata “Aku telah berniat melakukan ibadah haji, barangkali
engkau hendak memerintahkan sesuatu kepadaku.” Bisyr berkata
kepadanya: “Berapa biaya yang telah engkau persiapkan untuk
itu?” Dia menjawab, “Dua ribu dirham.”

Bisyr berkata, “Apakah yang hendak engkau cari dalam hajimu?
Karena zuhud, rindu kepada Baitullah, ataukah untuk mencari
keridhaan Allah SWT?”

Dia menjawab, “Saya hendak mencari keridhaan Allah SWT.”

Bisyr berkata, “Kalau engkau hendak mencari keridhaan Allah
SWT, sementara engkau tetap berada di rumahmu dan
membelanjakan dua ribu dirham itu (bukan untuk berhaji), serta
engkau merasa yakin bahwa engkau akan dapat memperoleh
keridhaan itu, maka apakah engkau akan melakukannya (haji)
juga?”

Dia menjawab, “Ya.”

Bisyr berkata, “Pergilah, dan berikan dua ribu dirham itu
kepada sepuluh kelompok manusia ini: orang yang berutang agar
dia dapat membayar utang-utangnya; orang miskin agar dia dapat
bangkit kembali; orang yang menanggung pemeliharaan anggota
keluarga yang banyak agar mereka tercukupi keperluannya; dan
pengasuh anak yatim agar dia dapat menggembirakan mereka.
Kalau hatimu kuat, berikanlah uang itu kepada salah satu
kelompok tersebut, karena sesungguhnya usahamu untuk
menggembirakan hati seorang Muslim, memberikan pertolongan
kepada orang yang bersedih hati, menyelamatkan orang yang
sedang dalam keadaan berbahaya, memberikan bantuan kepada
orang yang lemah, adalah lebih baik daripada seratus kali haji
yang dilakukan setelah haji wajib dalam Islam. Berdirilah dan
berikanlah uang itu kepada mereka sebagaimana kami
memerintahkan kepadamu. Jika tidak, maka katakanlah apa yang
terdetik di dalam hatimu?”

Dia menjawab, “Wahai Abu Nashr, perjalananku lebih kuat dalam
hatiku. “

Bisyr lalu tersenyum, kemudian mendekatinya dan berkata
kepadanya: “Harta kekayaan yang dikumpulkan dari kotoran
perniagaan dan syubhat, membuat hawa nafsu bertindak di
dalamnya untuk memamerkan amal shalehnya Padahal Allah SWT
telah berjanji kepada diri-Nya sendiri untuk tidak menerima
kecuali amal orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya.”26

“… Ya tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami),
sesungguhnya engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (al-Baqarah: 127).

Catatan kaki:

22 Lihat buku kami, ar-Rasul wa al-’Ilm, h. 2~23. Pen.
Al-Risalah, Beirut, dan al-Sahwah, Kairo.

23 Diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Abu Hurairah r.a.
dengan lafal, “Tidak ada sesuatu yang dipergunakan oleh
hamba-ku kepada diri-ku”

24 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan al-Hakim yang men-shahih-kan
hadits ini dari hadits Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari
kakeknya. Ada hadits yang serupa ini dalam as-Shahihain,
dengan lafal yang lain dari hadits Abu Hurairah r.a.

25 Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3: 400-404, Pen. Dar al-Ma’rifah,
Beitut.

26 Ibid., 3: 409; dan lihat buku kami yang berjudul al-Imam
al-Ghazali bayn Madihihi wa Naqidihi, h. 81-93, Penerbit Dar
al-Wafa’.

———————————————————————————
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
Robbani Press, Jakarta
Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M

Sumber : http://download.ymci.web.id/pakdenono/content/pakdenono1/web_offline/media.isnet.org/ISLAM/Qardhawi/Prioritas/Ghazali.html

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: