Anak Malas menulis dan hyper active

16 08 2008

Tanya
Bagaimana kiat-kiat mengatasi anak malas menulis dan hyper active? Anakku umur 7 lebih 3 bulan sekarang duduk di kelas 2 SD dari TK hingga saat ini anakku kebanyakan orang menilai hyper active salah satu contoh benda apa saja yang ada dedekatnya bisa dia jadikan mainan, susah sekali duduk manis di dalam kelas sering mondar mandir dalam kelas walaupun tidak menggangu temannya, pelajaran yang paling dia sukai matematikan dan komputer nilai yang dia dapat rata-rata 9 untuk pelajaran tsb. Tetapi yang lainnya dia kurang tertarik hanya karena terpaksa dia mau mengikuti, nilainya paling tinggi 7 bahkan ulangan pernah dapet 2 karena tidak mau menulis dari 10 soal hanya dikerjakan 2 soal saja dan dia sangat malas menulis untuk pelajaran selain matematika dan komputer. Tolong dong bantuin aku untuk mencari jalan keluarnya sebelumnya aku ucapkan terimakasih.(EW)

Jawab
Menilai berdasarkan keterangan yang cuma beberapa baris dibawah memang agak susah, tapi kalau dilihat dari ciri-cirinya ada kemungkinan anak ini menderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Jangan anggap enteng gangguan ini karena bisa menyebabkan learning disabilitiy juga. Sebaiknya konsultasikan dengan psikolog untuk mendapatkan pemecahan terbaik, bahkan kalau perlu di therapy untuk bisa tetap focus selama belajar. [dm]

Mungkin ada baiknya kalau si ibu membawa anaknya konsultasi ke Psikolog. Sekalian bisa diobservasi siapa tahu ada gangguan perkembangan. Keterangannya sedikit banget sih. Agak sedikit mirip dengan anak saya. Dari PG sampai kelas 1 SD selalu sulit untuk duduk manis dikelas seperti anak2 lainnya. Selalu menolak kalau disuruh mewarnai dan menulis. Kalau anak2 lain mau latihan menulis huruf “a” sampai sehalaman, anak saya hanya mau menulis 5 sampai 6 biji. Alasannya, dia sudah bisa jadi ngapain musti nulis sehalaman, gitu katanya. Sewaktu diobserasi oleh psikolog, ketahuan kalau anak saya termasuk kategori “highly gifted” dengan Performance score nya 124 dan Verbal scorenya 156. Scorenya “jomplang” banget. Anak seperti ini treatmentnya agak beda, karena memang mereka berbeda dengan anak lainnya dan perbedaan mereka itu harus dicari karena anak gifted satu beda dengan anak gifted lainnya.

Kalau yang aku baca di buku Semua Anak Cerdas itu memang semua anak “beda”. Kira2 gini yang aku tangkap. (cmiiw) Setiap anak kan punya beberapa jenis kecerdasan. Mulai yang linguistik, matematis, spasial, kinestetik jasmanis, musikal, antarpribadi, intrapribadi dan naturalis. Ada yang menarik juga menurutku, buku itu bilang kalao pertanyaan yang harusnya diajukan oleh setiap orang tua atau pendidik adalah bukannya “apakah anakku punya kecerdasan linguistik” misalnya. Tapi justru pertanyaannya adalah “dalam hal apakah anakku cerdas secara linguistik”??
Yang diperlukan adalah seorang guru atau orang tua harus bisa melihat,anakku ini lebih menonjol pada kecerdasan yang mana? Karena sebetulnya ke-8 kecerdasan tadi dimiliki semuanya oleh seorang anak namun dengan ‘porsi’ yang beda2 maka tidak adil kalau sistem pendidikan kita meminta setiap anak untuk duduk diam dan menulis jawaban pada ujian misalnya. Karena memang tidak semua anak bisa duduk diam. Dan hal itu bukan penyakit. Nah, harapannya si penulis ini, seharusnya tidak ada tuh cap cap, hyperaktif atau ADHD. Cmiiw.

Misalnya dari kasus anak tersebut. Si anak nilainya bagus buat matematika dan komputer. Kedua hal ini berhubungan pada hal yang sifatnya logika. Mereka cenderung berfikir secara numerik atau dalam konteks pola serta urutan logis. Padahal kecerdasan ini adalah salah satu kecerdasan yang yang justru biasanya dikaitkan dengan keberhasilan dalam sekolah loh. Jadi kira2 nih mbak, anak2 yang pinter secara matematis biasanya akan melakukan segala sesuatunya (seperti mengolah pertanyaan) dengan sangat cepat dalam kepala. Dan mereka merasa tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menuliskannya misalnya.

Kalau dia tidak bisa duduk dengan tenang misalnya. Bisa saja salah satu kecerdasan lain yang menonjol sebetulnya kecerdasan kinestetik jasmani. Quote: “anak yang menonjol pada kecerdasan kinestetik jasmani akan memproses pengetahuan melalui sensasi tubuh”. Mereka bisa “merasakan” jawaban yang benar.” end quote.

Maaf ya ibu, aku bukan psikholog, jadi belum bisa menganalisa secara tepat apa memang bener atau ‘salah’ hal hal yang aku baca di buku ini.Tapi so far, aku ngerasa pengetahuan yang aku dapetin masih masuk akal banget dan sangat membantu sekali “mengajarkan” tentang beberapa hal yang sebagai parent pengen aku sajarin ke anakku.

Yang aku seneng lagi di buku ini ada beberapa metode “pengajaran” yang berbeda untuk setiap anak yang menonjol pada kecerdasan A, B, C, dst. Misalnya, belajar membaca. Ada usulan2 tentang: kalau anak yang memang menonjol pada kec. Linguistik, tidak akan susah mengajarinya membaca dengan metode ‘konvensional. Tapi kalau anakknya cerdas menonjol secara naturalis misalnya, metode mengajar membaca sebaiknya mungkin dilakukan di alam bebas dengan menggunakan hewan sebagai contoh. Atau rangsang minat membaca dengan buku2 bertema alam.

Sekalian nambahin, di buku ini menarik juga loh pembahasan tentang asal muasal datengnya istilah the so called Hyperaktif, Learning Dissability atau Attention Deficit Dissorder oleh si penulis. Makes us think saja, paling tidak, supaya jangan kecepetan melabel anak anak dengan sesuatu yang berbau ‘penyakit’.

Yang lebih menarik lagi si Thomas Armstrong ini malah menganjurkan sebaiknya ada istilah : Curriculum Dissorder (penyakit kurikulum) atauDysteachic (penderita salah mengajar). [nd]

Eh, semua istilah dibawah yang kamu sebuntukan bukan berbau ‘ penyakit’, tapi termasuk kategori ‘disorder’. Beda lho! Aku juga tidak terima kalau anakku dibilang sakit autis misalnya, wong anakku sehat-sehat saja. Kalau pendapatku pribadi tidak ada salahnya melabel anak setelah dilakukanobservasi dan dilakukan oleh ahlinya, makanya aku menyarankan ke si ibu konsultasi ke ahlinya dalam hal ini psikolog ya. Lagi-lagi menurut aku nih label juga dipergunakan untuk menangani anak secara tepat nantinya. Sehingga setiap anak dengan disorder yang berbeda membutuhkan penanganan yang berbeda pula.

Tulisan Thomas Amstrong bagus, tapi sayang belum bisa diterapkan di Indonesia secara umum karena sistem pendidikan kita masih amburadul.Boro-boro mau meneliti kecerdasan setiap anak dan mengajari anak dengan metoda yang berbeda tergantung kecerdasannya, menyusun kurikulum saja dari dulu tidak selesai-selesai. Wah kalau sudah ngomongin sistem pendidikan aku suka hopeless deh.

Mudah-mudahan ada petinggi-petinggi yang mau baca buku ini, dan pelan-pelan bisa diterapkan di Indonesia. Jadi anak-anak special seperti anakku dan anak-anak lainnya bisa tetap mendapatkan pendidikan yang layak, tidak dicap anak nakal, keras kepala, pembangkang, pemalas dll yang ujung-ujungnya dikeluarin dari sekolah. Oh ya, FYI anak-anak ini memang paling jago matematika ama komputer koq. [dm]

Iya, makanya aku bilang, aku juga belum punya kapabilitas yang sesuai utnk menilai “benar-tidaknya” atau “tepat tidaknya” tulisan ini. Tapi paling engak memang ya itu tadi, kalau di aku yang alhamdulillah baru 2,6 tahun jadi ibu jadi belajar menerima bahwa setiap anak berbeda, dan jangan sampai aku menuntut anakku nanti untuk bisa ini dan itu yang ternyata memang bukan dirinya. “BB”tw, bener juga gimana kita mau mengharapkan sistem pendidikan ala buku ini untuk diterapin di indo, wong bukunya saja mengkritik sistem pendidikan disana ya? Bukunya ada di Gramedia kok kalau tidak salah harganya 55 ribu, dulu sempet rame2 dibeli ibu2 DI bareng2!! [nd]

Sumber : http://www.dunia-ibu.org


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: